Jumat, 11 Desember 2009

Waspada Hujan Sampah Antariksa pada 2012

BANDUNG, KOMPAS.com — Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengingatkan masyarakat akan bahaya akibat bakal maraknya sampah antariksa yang jatuh ke Bumi. Puncak potensi bahaya akibat sampah dari satelit yang tidak lagi terpakai ini terjadi pada 2012.

Hal itu diingatkan Thomas Djamaluddin, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan, di dalam acara Press Tour yang diadakan Kamis (10/12/2009). Acara ini diikuti sejumlah wartawan dari sejumlah media cetak ataupun elektronik.

"Pada saat itu, atmosfer Bumi akan menjadi lebih padat akibat pengaruh aktivitas iradiasi matahari di saat siklus puncak. Dengan kian padat, ada hambatan bagi satelit dalam bergerak. Kecepatan menjadi semakin rendah dan lama-lama kehilangan gravitasi dan ketinggian sehingga akan mudah jatuh," tutur profesor riset di bidang astronomi Lapan ini.

Saat itu, lanjut Thomas, diperkirakan hampir setiap hari sampah berupa satelit akan jatuh ke permukaan Bumi. Pada kondisi normal, rata-rata hanya dua satelit atau pecahannya yang jatuh per pekannya. Adapun jumlah sampah antariksa ini bisa mencapai 13.000 dalam ukuran lebih dari 1 sentimeter.

"Namun, masyarakat jangan panik," katanya. Menurut dia, peluang sampah antariksa ini untuk mengenai manusia atau obyek yang dimiliki manusia sangat kecil.

"Secara keseluruhan, Bumi ini kan luas. Mayoritas seperti laut, gurun, dan hutan tidak berpenghuni. Jadi, peluangnya kecil," ucapnya.

Thomas memberi contoh, sebuah satelit rusak yang berada di atas langit Indonesia memiliki peluang yang sama untuk bisa jatuh di Indonesia ataupun Arab Saudi dalam rentang jarak yang cukup jauh, yaitu 1.000 kilometer. "Makanya, ini sulit diprediksi akan jatuh di mana," ucapnya.

Pada 2003, saat terjadi puncak aktivitas matahari, Indonesia dihujani sampah-sampah ini. Pecahan yang jatuh sampai ke tanah, antara lain, di Bengkulu dengan ukuran 80 x 120 cm. Satelit Berposax juga sempat melintas di Indonesia pada Mei 2003. Pecahan yang terbesar, berukuran manusia, yaitu sisa Roket Soyus dan Cosmos terjadi pada Maret 1981 di Bengkulu.

Pernah pula dilaporkan sampah ini menimpa sapi, lalu SPBU. Namun, ini bukan di Indonesia, tutur Sri Kaloka, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa. Wah!

Harga Minyak Terus Turun

NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak tergelincir pada Kamis (10/12/2009) waktu setempat, memperpanjang penurunan baru-baru ini, di tengah keraguan terus-menerus tentang laju pemulihan dari resesi dan tanda-tanda permintaan energi lamban.

Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah light sweet untuk Januari, merosot 13 sen menjadi ditutup pada 70,54 dollar AS per barrel, level rendah yang terakhir terlihat pada awal Oktober. Bahkan dalam perdagangan intraday, kontrak sempat menyusut di bawah 70 dollar AS.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Januari turun 53 sen menjadi menetap di 71,86 dollar per barrel.

Kontrak New York telah menumpahkan hampir delapan dolar, atau 10 persen dari nilai, dalam tujuh sesi penurunan berturut-turut.

Perdagangan New York sangat berhati-hati dengan latar belakang laporan ekonomi makro campuran, termasuk menyusutnya kesenjangan perdagangan AS, Italia yang keluar dari resesi dan krisis utang di Dubai dan Yunani.

Jason Schenker dari Prestige Economics mengatakan bahwa pedagang merasakan kekakuan untuk pemulihan dari resesi terburuk dalam beberapa dasawarsa. "Para pelaku pasar tampaknya akan datang perlahan-lahan ke realisasi bahwa pemulihan benar akan memakan waktu bertahun-tahun," katanya.

Dollar, bertahan mantap Kamis setelah menguat dalam beberapa hari terakhir, tidak mendukung sebuah kenaikan kecil harga kontrak berjangka New York dalam pembukaan perdagangan. "Pendulum sentimen pendulum telah berayun menuju pesimisme," kata analis MF Global Mike Fitzpatrick, membantu mendorong minyak turun ke 69,81 dollar AS selama sesi.

"Kami melihat 70 dollar AS per barel sebagai lantai bawah harga yang seharusnya tidak akan terlintasi untuk periode waktu yang berkelanjutan," kata Kevin Norrish dari Barclays Capital.

Ekonomi Dapat Tumbuh 6 Persen

JAKARTA, KOMPAS.com - Perekonomian Indonesia bisa tumbuh hingga 6 persen tahun 2010. Dengan demikian, target pemerintah bahwa ekonomi akan tumbuh pada level 5-5,5 persen pada tahun 2010 adalah target yang bisa dicapai tanpa harus bekerja keras sama sekali.

”Pertumbuhan 4 persen pada tahun 2009 sudah di tangan. Dengan demikian, tahun depan harus tumbuh 6 persen. Kalau 5,5 persen itu menunjukkan tidak ada keinginan untuk kerja keras,” ujar ekonom Faisal Basri di Jakarta, Kamis (10/12), dalam Seminar bertema ”Outlook 2010: Prospek Politik dan Ekonomi Indonesia” yang diselenggarakan kantor berita Antara.

Menurut Faisal, ekonomi bisa tumbuh lebih tinggi daripada perkiraan pemerintah karena kondisi ekspor-impor di negara lain mulai pulih. Perdagangan dunia bisa mendongkrak ekspor Indonesia. Atas dasar itu, pertumbuhan terendah tahun 2010 adalah 5,4 persen. Namun, jika semua program unggulan selesai, seperti layanan elektronik terpadu kepabeanan ekspor-impor/ National Single Windows (NSW) jalan dan Pelabuhan Tanjung Priok aktif 24 jam, ekonomi bisa tumbuh 6 persen.

Untuk itu, sektor manufaktur harus didorong tumbuh dari 1,3 persen menjadi 3,5-4 persen. Juga kebutuhan investasi senilai Rp 2.000 triliun bisa terpenuhi, baik dari perbankan Rp 400 triliun, investasi asing 10 miliar dollar AS (naik dari posisi sekarang hanya 1 miliar dollar AS), maupun tarikan pasar modal untuk menyerap dana asing Rp 500 triliun.

”Rata-rata kebutuhan dana investasi pada lima tahun mendatang adalah Rp 2.900 triliun per tahun. Selain itu, investasi asing juga harus masuk 10 miliar dollar AS karena berdasarkan pengalaman, sebagian besar investasi asing ini akan masuk ke manufaktur kita,” ujar Faisal.

Indonesia sebaiknya tidak cepat berpuas diri dengan catatan pertumbuhan ekonomi yang tetap positif 4,5 persen tahun 2009 pada saat negara lain didera krisis sehingga mengalami pertumbuhan negatif. Sebab, negara dengan pertumbuhan negatif justru telah melampaui Indonesia, misalnya Jepang, yang sudah pulih dari pertumbuhan negatif menjadi positif 4,8 persen.

”Seharusnya dengan pertumbuhan positif 4,5 persen, Indonesia bisa melakukan lebih tinggi lagi,” ujar Faisal.

Secara terpisah, Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Johnny Darmawan mengatakan, ”Kalau ingin mendongkrak pertumbuhan ekonomi hingga 7 persen, kita mesti menggalang investasi dari luar. Tidak bisa hanya investasi domestik.”

Menurut Johnny, investasi baru tersebut perlu didorong ke arah penyediaan infrastruktur, seperti jalan dan pembangkit listrik. Sektor otomotif bisa menjadi lokomotif penggerak untuk memecahkan masalah pengangguran.

Sri Mulyani: "Aburizal Bakrie is Not Happy with Me"

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai, keberadaan pansus Hak Angket Bank Century di parlemen merupakan upaya lawan politiknya untuk menjegal dirinya dari posisi Menteri Keuangan karena usaha Sri Mulyani yang melakukan reformasi birokrasi Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, Departemen Keuangan memang menjadi pioner dalam menerapkan reformasi birokrasi.

Sri Mulyani dalam wawancaranya dengan harian bisnis The Wall Street Journal edisi Asia terbitan Kamis (10/12/2009) kembali menegaskan tindakan pemberian bailout terhadap Bank Century tersebut adalah untuk mencegah kepanikan terhadap para nasabah bank lainnya.

Dalam wawancaranya tersebut, Sri Mulyani bahkan terang-terangan menyebut nama mantan sejawatanya dalam Kabinet Indonesia Bersatu I, Aburizal Bakrie, yang sekarang menjadi Ketua Umum Golkar. "Aburizal Bakrie is not happy with me," kata Menkeu. "Saya tidak berharap seorang pun di Golkar akan adil atau baik kepada saya," tuturnya.

Menkeu menyebutkan, pangkal ketegangan antara dirinya dan Ical, panggilan akrab Aburizal Bakrie, adalah saat dirinya menolak penghentian sementara saham-saham beberapa perusahaan milik keluarga Bakrie tahun lalu. Saat itu, saham-saham keluarga Bakrie rontok, terseret anjloknya saham Bumi Resources Tbk (BUMI), salah satu perusahaan pertambangan milik Bakrie. Selain BUMI, lima emiten lainnya adalah PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Menurut Sri Mulyani, yang meminta penghentian perdagangan adalah Ical, panggilan Aburizal.

Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara (suspend) perdagangan saham-saham Grup Bakrie mulai 7 Oktober 2008. Waktu itu saham BUMI sempat melorot hingga Rp 425 per saham, dari sekitar Rp 8.000-an per lembar.

Menkeu juga menambahkan, tahun lalu dirinya memberlakukan larangan bepergian kepada beberapa eksekutif perusahan tambang batu bara, termasuk kepada keluarga besar Bakrie, terkait perselisihan pembayaran royalti penjualan batu bara.

Prita: Koin Simbol Pernyataan Rakyat untuk Mendapat Keadilan

JAKARTA, KOMPAS.com — Prita Mulyasari (32) mengaku terharu atas gerakan pengumpulan koin dan berbagai dukungan yang diberikan untuk membantu kasusnya.

"Koin adalah simbol paling kecil dalam mata uang rupiah kita. Itu bentuk pernyataan dari rakyat. Untuk mendapat keadilan di Republik Indonesia ini harus sampai menyerahkan koin," kata Prita, saat jumpa pers di Gedung DPD, Jakarta, Selasa (8/12).

Menurutnya, gerakan mengumpulkan koin itu merupakan kekecewaan masyarakat terhadap penegakan hukum di Indonesia. Dia berharap, ada perubahan penegakan hukum di Indonesia sehingga akhirnya menjadi lebih memihak terhadap rakyat kecil.

"Saya mengurut dada, saya enggak tahu, Indonesia kok begini, ironis tapi inilah yang terjadi," kata Prita.

Premium di Timika Rp 15.000 Per Liter

TIMIKA, KOMPAS.com — Harga premium eceran di Timika, Papua, saat ini mencapai kisaran Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per botol air mineral (isi 1,5 liter).

Menurut sejumlah pedagang premium eceran di Timika, Jumat (11/12/2009), kelangkaan premium telah berlangsung selama tiga pekan akibat minimnya pasokan dari Pertamina. "Sudah tiga minggu premium kosong sehingga harga eceran dijual sampai Rp 15.000 per liter," kata Syamsudin, salah satu pengecer premium di Jalan Cenderawasih Timika Jaya.

Sementara itu, dua stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) di Timika selama beberapa hari terakhir dipadati kendaraan roda dua dan empat serta masyarakat umum yang hendak membeli premium. Di SPBU Nawaripi Timika, Jumat, sekitar 1.000 kendaraan roda dua dan empat terjebak antrean panjang menunggu pengisian premium.

Situasi di SPBU tersebut tampak kacau-balau lantaran banyak warga datang membawa jeriken-jeriken besar ke SPBU. Warga beralasan premium yang mereka beli untuk kebutuhan bahan bakar perahu motor untuk transportasi ke wilayah pesisir.

Rifai, staf operasional PT Mimika Timur Jaya, mengatakan, selama tiga hari terakhir premium yang disalurkan oleh Pertamina ke SPBU Nawaripi sebanyak 21 kiloliter (KL) dan SPBU Timika Jaya-SP2 sebanyak 24 KL.

Jumlah Pengangguran Bertambah 12,47 Persen

GORONTALO, KOMPAS.com - Jumlah pengangguran di Provinsi Gorontalo selama 2009 bertambah karena kurangnya lapangan pekerjaan di daerah tersebut.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo Soegarenda, Jumat (11/12) mengatakan pada Agustus 2009 jumlah pengangguran di provinsi itu bertambah menjadi 26.351 orang dari 23.429 orang pada Februari 2009.

"Jadi dalam selang waktu setengah tahun, jumlah pengangguran di Gorontalo bertambah 2.922 orang atau 12,47 persen," ujarnya.

Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2009 mencapai 5,89 persen, naik dibanding Februari 2009 yang hanya 5,06 persen.

Hal yang sama juga terjadi bila dibandingkan dengan keadaan Agustus 2008 yang mencapai 5,56 persen.

Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail mengatakan akan mengatasi pembengkakan pengangguran melalui tiga program unggulan.

"Sektor pertanian dan perikanan membuka lapangan kerja seluas-luasnya dan kami sedang gencar memotivasi masyarakat agar tak terjebak dengan pola pikir lama," ujarnya.

Sejauh ini, sebagian besar masyarakat Gorontalo berpikir, lapangan pekerjaan yang menjanjikan hanya pegawai negeri sipil (PNS).

Akibatnya, jumlah pengangguran terus bertambah karena kuota PNS yang disediakan pemerintah terlalu kecil untuk mengakomodasi seluruh pengangguran.